Friday, October 10, 2008

Tarikan KeperibadiaN RAsuLuLLah s.a.w


Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menghimpun sekian banyak kelebihan dari berbagai lapisan manusia selama pertumbuhan beliau. Beliau menjadi sosok yang unggul dalam pemikiran yang jitu, pandangan yang lurus, mendapat sanjungan karena kecerdikan, kelurusan pemikiran, pencarian sarana dan tujuan. Beliau lebih suka diam berlama-lama untuk mengamati, memusatkan pikiran dan menggali kebenaran. Dengan akalnya beliau mengamati keadaan negerinya. Dengan fitrahnya yang suci beliau mengamati lembaran-lembaran kehidupan, keadaan manusia dan berbagai golongan.

Beliau merasa risih terhadap khurafat dan menghindarinya. Beliau berhubungan dengan manusia, dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dan keadaan mereka. Selagi mendapatkan yang baik, maka beliau mau bersekutu di dalamnya. Jika tidak, maka beliau lebih suka dengan kesendiriannya. Beliau tidak mau meminum khamar, tidak mau makan daging hewan yang disembelih untuk dipersembahkan kepada berhala, tidak mau menghadiri upacara atau pertemuan untuk menyembah patung-patung. Bahkan semenjak kecil beliau senantiasa menghindari jenis penyembahan yang batil ini, sehingga tidak ada sesuatu yang lebih beliau benci selain dari penyembahan patung-patung ini, dan hampir-hampir beliau tidak sanggup menahan kesabaran tatkala mendengar sumpah yang disampaikan kepada Lata dan Uzza. (1)

Tidak diragukan lagi bahwa takdir telah mengelilingi agar beliau senantiasa terpelihara. Jika ada kecenderungan jiwa yang tiba-tiba menggelitik untuk mencicipi sebagian kesenangan dunia atau ingin mengikuti sebagian tradisi yang tidak terpuji, maka pertolongan Allah masuk sebagai pembatas antara diri beliau dan kesenangan atau kecenderungan itu.

Ibnul-Atsir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, Tidak pernah terlintas dalam benakku suatu keinginan untuk mengikuti kebiasaan yang dilakukan orang-orang jahiliyah kecuali hanya dua kali. Namun kemudian Allah menjadi penghalang antara diriku dan keinginan itu. Setelah itu aku tidak lagi berkeinginan sedikit pun hingga Allah memuliakan aku dengan risalah-Nya. Suatu malam aku pernah berkata kepada seorang pemuda yang sedang menggembala kambing bersamaku di suatu bukit di Makkah, Tolong awasilah kambing-kambing gembalaanku, karena aku hendak masuk Makkah dan hendak mengobrol di sana seperti yang dilakukan para pemuda yang lain. Aku akan melaksanakannya,kata pemuda rekanku.
Maka aku beranjak pergi. Di samping rumah pertama yang kulewati di makkah, aku mendengar suara tabuhan rebana. Ada apa ini? Aku bertanya.
Orang-orang menjawab, Perhelatan pernikahan Fulan dan Fulanah.
Aku ikut duduk-duduk dan mendengarkan. Namun Allah menutup telingaku dan aku langsung tertidur, hingga aku terbangun karena sengatan matahari esok harinya. Aku kembali menemui rekanku dan dia langsung menanyakan keadaanku. Maka aku mengabarkan apa yang terjadi. Pada malam lainnya aku berkata seperti itu pula dan berbuat hal yang sama. Namun lagi-lagi aku mengalami kejadian yang sama seperti malam sebelunya. Maka setelah itu aku tidak lagi ingin berbuat hal yang buruk. (2)

Al-Bukhary meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, Tatkala Ka'bah sedang direnovasi, Nabi SAW ikut bergabung bersama Abbas, mengambili batu. Abbas berkata kepada beliau, Angkatlah jubahmu hingga di atas lutut, agar engkau tidak terluka oleh batu. Namun karena itu beliau justru jatuh terjerembab ke tanah. Maka beliau menghunjamkan pandangan ke langit, kemudian bersabda, Ini gara-gara jubahku, ini gara-gara jubahku. Lalu beliau mengikatkan jubahnya. Dalam riwayat lain disebutkan, setelah itu tidak pernah terlihat beliau menampakkan auratnya. (3)

Nabi SAW menonjol di tengah kaumnya karena perkataannya yang lemah lembut, akhlaknya yang utama, sifat-sifatnya yang mulia. Beliau adalah orang yang paling utama kepribadiannya di tengah kaumnya, paling bagus akhlaknya, paling terhormat dalam pergaulannya dengan para tetangga, paling lemah lembut, paling jujur perkataannya, paling terjaga jiwanya, paling terpuji kebaikannya, paling baik amalnya, paling banyak memenuhi janji, paling bisa dipercaya, hingga mereka menjulukinya Al-Amin, karena beliau menghimpun semua keadaan yang baik dan sifat-sifat yang diridhai orang lain. Keadaan beliau juga digambarkan Ummul-Mukminin Khadijah Radhiyallahu Anha, Beliau membawa bebannya sendiri, memberi orang miskin, menjamu tamu dan menolong siapa pun yang hendak menegakkan kebenaran. (4)

Keterangan:
1. Sikap beliau ini bisa dibuktikan dengan perkataan Bahira. Lihat Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/128.
2. Keshahihan hadits ini diperselisihkan. Al-Hakim menshahihkannya dan Ibnu Katsir mendhaifkannya di dalam Al-Bidayah wan-Nihayah, 2/287.
3. Karena paha laki-laki dianggap sebagai aurat yang tidak layak diperlihatkan. Shahihul-Bukhary, bab Bunyanil-Ka'bah, 1/540/
4. Shahihul-Bukhary, 1/3.

Sumber: Sirah Nabawiyah oleh Syaik Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury

Tuntunan Rasulullah Dalam PerayaaN


Assalamualaikum Warahmatullahi WabarakatuH..
Alhamdulillah kita masih lagi diberi nikmat iman,islam & kurniaan limpah inayahnya yg tidak terhitung lagi hingga kini..Walaupn sudah hari yg ke-10 dlm bulan syawal,namun bg masyarakat malaysia msh lg menyambut perayaan aidilfitri bahkan boleh dikatakan selagi bulan syawal ini belum lagi menutup tirainya rata2nya masih lg menyambut dan terasa wujudnya lagi biah perayaan aidilfitri ini.Jadi di sini marilah kita sama2 singkap kembali dan menghayati semula apakah hakikat erti sebenarnya perayaan yang sesuai dengan tuntunan Junjungan kita NAbi Muhammad s.a.w..

Tiap tanggal 1 Syawal kita berhari raya ‘Iedul Fitri.Ketahuilah bahawa hari raya ini merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebut ‘Ied karena pada hari itu Allah memberikan berbagai macam kebaikan yang kepada kita sebagai hambaNya. Diantara kebaikan itu adalah berbuka setelah adanya larangan makan dan minum selama bulan suci Romadhan dan kebaikan berupa diperintahkannya mengeluarkan zakat fitrah.

Para ulama telah menjelaskan tentang sunah-sunah Rasulullah yang berkaitan dengan hari raya, diantaranya:

1. Mandi pada hari raya.

Sa’id bin Al Musayyib berkata: “Sunah hari raya ‘idul Fitri ada tiga: berjalan menuju lapangan, makan sebelum keluar dan mandi.”

2. Berhias sebelum berangkat sholat ‘Iedul Fitri.

Disunahkan bagi laki-laki untuk membersihkan diri dan memakai pakaian terbaik yang dimilikinya, memakai minyak wangi dan bersiwak. Sedangkan bagi wanita tidak dianjurkan untuk berhias dengan mengenakan baju yang mewah dan menggunakan minyak wangi.

3. Makan sebelum sholat ‘Idul Fitri.

“Dari Anas RodhiyAllahu’anhu, ia berkata: Nabi sholAllahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar rumah pada hari raya ‘Iedul fitri hingga makan beberapa kurma.” (HR. Bukhari). Menurut Ibnu Muhallab berkata bahwa hikmah makan sebelum sholat adalah agar jangan ada yang mengira bahwa harus tetap puasa hingga sholat ‘Ied.

4. Mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari sholat ‘Ied.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, beliau mengambil jalan yang berbeda saat pulang dan perginya (HR. Bukhari), diantara hikmahnya adalah agar orang-orang yang lewat di jalan itu bisa memberikan salam kepada orang-orang yang tinggal disekitar jalan yang dilalui tersebut, dan memperlihatkan syi’ar islam.

5. Bertakbir.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat menunaikan sholat pada hari raya ‘ied, lalu beliau bertakbir sampai tiba tempat pelaksanaan sholat, bahkan sampai sholat akan dilaksanakan. Dalam hadits ini terkandung dalil disyari’atkannya takbir dengan suara lantang selama perjalanan menuju ke tempat pelaksanaan sholat. Tidak disyari’atkan takbir dengan suara keras yang dilakukan bersama-sama. Untuk waktu bertakbir saat Idul Fitri menurut pendapat yang paling kuat adalah setelah meninggalkan rumah pada pagi harinya.

6. Sholat ‘Ied.

Hukum sholat ‘ied adalah fardhu ‘ain, bagi setiap orang, karena Rosulululloh shallallahu ‘alaihi wa sallamAt Ta’liqat Ar Radhiyah, syaikh Al Albani, 1/380). Nabi menyuruh manusia untuk menghadirinya hingga para wanita yang haidh pun disuruh untuk datang ke tempat sholat, tetapi disyaratkan tidak mendekati tempat sholat. Selain itu Nabi juga menyuruh wanita yang tidak punya jilbab untuk dipinjami jilbab sehingga dia bisa mendatangi tempat sholat tersebut, hal ini menunjukkan bahwa hukum sholat ‘Ied adalah fardhu ‘ain. senantiasa mengerjakan sholat ‘Ied. Sholat ‘Ied menggugurkan sholat jum’at, jika ‘Ied jatuh pada hari jum’at. Sesuatu yang wajib hanya bisa digugurkan oleh kewajiban yang lain (

Waktu Sholat ‘Ied adalah setelah terbitnya matahari setinggi tombak hingga tergelincirnya matahari (waktu Dhuha). Disunahkan untuk mengakhirkan sholat ‘Iedul Fitri, agar kaum muslimin memperoleh kesempatan untuk menunaikan zakat fitrah.

Disunahkan untuk mengerjakan di tanah lapang di luar pemukiman kaum muslimin, kecuali ada udzur (misalnya hujan, angin kencang) maka boleh dikerjakan di masjid.

Dari Jabir bin Samurah berkata: “Aku sering sholat dua hari raya bersama nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa adzan dan iqamat.” (HR. Muslim) dan tidak disunahkan sholat sunah sebelum dan sesudah sholat ‘ied, hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat hari raya dua raka’at. Tidak ada sholat sebelumnya dan setelahnya (HR. Bukhari: 9890)

Untuk Khutbah sholat ‘ied, maka tidak wajib untuk mendengarkannya, dibolehkan untuk meningggalkan tanah lapang seusai sholat. Khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dibuka dengan takbir, tapi dengan hamdalah, dan juga tanpa diselingi dengan takbir-takbir. Beliau berkutbah di tempat yang agak tinggi dan tidak menggunakan mimbar. Rasulullah berkutbah dua kali, satu untuk pria dan satu untuk wanita, ketika beliau mengira wanita tidak mendengar khutbahnya.

7. Ucapan selamat Hari Raya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang mengucapkan selamat pada hari raya dan beliau menjawab: “Adapun ucapan selamat pada hari raya ‘ied, sebagaimana ucapan sebagian mereka terhadap sebagian lainnya jika bertemu setelah sholat ‘ied yaitu: Taqabbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima amal kami dan kalian) atau ahaalAllahu ‘alaika (Mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepadamu) dan semisalnya.” Telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi bahwa mereka biasa melakukan hal tersebut. Imam Ahmad dan lainnya juga membolehkan hal ini. Imam Ahmad berkata, “Saya tidak akan memulai seseorang dengan ucapan selamat ‘ied, Namun jika seseorang itu memulai maka saya akan menjawabnya.” Yang demikian itu karena menjawab salam adalah sesuatu yang wajib dan memberikan ucapan bukan termasuk sunah yang diperintahkan dan juga tidak ada larangannya. Barangsiapa yang melakukannya maka ada contohnya dan bagi yang tidak mengerjakannya juga ada contohnya (Majmu’ al-Fatawaa, 24/253). Ucapan hari raya ini diucapkan hanya pada tanggal 1 Syawal.

8. Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada hari raya.

Saat hari raya, kadang kita terlena dan tanpa kita sadari kita telah melakukan kemungkaran-kemungkaran diantaranya:

1. Berhias dengan mencukur jenggot (untuk laki-laki).
2. Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.
3. Menyerupai atau tasyabuh terhadap orang-orang kafir dalam hal pakaian dan mendengarkan musik serta berbagai kemungkaran lainnya.
4. Masuk rumah menemui wanita yang bukan mahrom.
5. Wanita bertabarruj atau memamerkan kecantikannya kepada orang lain dan wanita keluar ke pasar dan tempat-tempat lain.
6. Mengkhususkan ziarah kubur hanya pada hari raya ‘ied saja, serta membagi-bagikan permen, dan makanan-makanan lainnya, duduk di kuburan, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, melakukan sufur (wanitanya tidak berhijab), serta meratapi orang-orang yang sudah meninggal dunia.
7. Berlebih-lebihan dan berfoya-foya dalam hal yang tidak bermanfaat dan tidak mengandung mashlahat dan faedah.
8. Banyak orang yang meninggalkan sholat di masjid tanpa adanya alasan yang dibenarkan syari’at agama, dan sebagian orang hanya mencukupkan sholat ‘ied saja dan tidak pada sholat lainnya. Demi Allah ini adalah bencana yang besar.
9. Menghidupkan malam hari raya ‘ied, mereka beralasan dengan hadits dari Rasulullah: “Barangsiapa menghidupkan malam hari raya ‘iedul fitri dan ‘iedul adha, maka hatinya tidak akan mati di hari banyak hati yang mati.” (Hadits ini maudhu’/palsu sehingga tidak dapat dijadikan dalil).

Maroji’:

1. Ahkamul ‘Aidain oleh Syaikh ‘Ali Hasan bin ‘Ali al-Halabi al-Atsari.
2. Meneladani Rasulullah dalam Berhari Raya.

Saturday, October 4, 2008

MA’RIFATUL QUR’AN


Ketika manusia mencoba mengupas keagungan Al-Qur’an Al-Karim, maka ketika itu pulalah manusia harus tunduk mengakui keagungaan dan kebesaran Allah SWT. Karena dalam Al-Qur’an terdapat lautan makna yang tiada batas, lautan keindahan bahasa yang tiada dapat dilukiskan oleh kata-kata, lautan keilmuan yang belum terfikirkan dalam jiwa manusia dan berbagai lautan-lautan lainnya yang tidak terbayangkan oleh indra kita. Oleh karenanya, mereka-mereka yang telah dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an sepenuh hati, dapat merasakan ‘getaran keagungan’ yang tiada bandingannya. Mereka dapat merasakan sebuah keindahan yang tidak terhingga, yang dapat menjadikan orientasi dunia sebagai sesuatu yang teramat kecil dan sangat kecil sekali. Sayid Qutub, di dalam muqadimah Fi Dzilalil Qur’annya mengungkapkan:

الحياة في ظلال القرآن نعمة . نعمة لا يعرفها إلا من ذاقها . نعمة ترفع العمر وتباركه وتزكيه .

والحمد لله . . لقد منَّ علي بالحياة في ظلال القرآن فترة من الزمان ، ذقت فيها من نعمته ما لم أذق قط في حياتي .

Hidup di bawah naungan Al-Qur’am merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang tiada dapat dirasakan, kecuali hanya oleh mereka yang benar-benar telah merasakannya. Suatu kenikmatan yang mengangkat jiwa, memberikan keberkahan dan mensucikannya…. Dan Al-Hamdulillah… Allah telah memberikan kenikmatan pada diriku untuk hidup di bawah naungan Al-Qur’an beberapa saat dalam perputaran zaman. Di situ aku dapat merasakan sebuah kenikmatan yang benar-benar belum pernah aku rasakan sebelumnya sama sekali dalam hidupku.

Cukuplah menjadi bukti keindahan bahasa Al-Qur’an, manakala diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Imam Zuhri (Abu Syahbah, 1996 : I/312):

Bahwa suatu ketika, Abu Jahal, Abu Lahab dan Akhnas bin Syariq, yang secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah SAW pada malam hari untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah SAW dalam shalatnya. Mereka bertiga memiliki posisi yang tersendiri, yang tidak diketahui oleh yang lainnya. Hingga ketika Rasulullah SAW usai melaksanakan shalat, mereka bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling mencela, dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah SAW. Namun pada melam berikutnya, ternyata mereka bertiga tidak kuasa menahan gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat tersebut. Mereka bertiga mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang ke rumah Rasulullah SAW, dan mereka pun menempati posisi mereka masing-masing. Ketika Rasulullah SAW usai melaksanakan shalat, mereka pun memergoki yang lainnya di jalan. Dan terjadilah saling celaan sebagaimana yang kemarin mereka ucapkan. Kemudian pada malam berikutnya, gejolak jiwa mereka benar-benar tidak dapat dibendung lagi untuk mendengarkan Al-Qur’an, dan merekapun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dana manakala Rasulullah SAW usai melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat ‘mu’ahadah’ (perjanjian) untuk sama-sama tidak kembali ke rumah Rasulullah SAW guna mendengarkan Al-Qur’an.

Masing-masing mereka mengakui keindahan Al-Qur’an, namun hawa nafsu mereka memungkiri kenabian Muhammad SAW. Selain contoh di atas terdapat juga ayat yang mengungkapkan keindahan Al-Qur’an. Allah mengatakan (QS. 58 : 21):

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

Ta’rif.

Dari segi bahasa, Al-Qur’an berasal dari qara’a, yang berarti menghimpun dan menyatukan. Sedangkan Qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya dengan susunan yang rapih. (Al-Qattan, 1995 : 20) Mengenai hal ini, Allah berfirman (QS. 75 : 17):

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ * فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ *

“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.”

Al-Qur’an juga dapat berarti bacaan, sebagai masdar dari kata qara’a. Dalam arti seperti ini, Allah SWT mengatakan (QS. 41 : 3):

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.”

Adapun dari segi istilahnya, Al-Qur’an adalah:

كَلاَمُ اللهِ الْمُعْجِزُ الْمُنَزَّلُ عَلَى قَلْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَنْقُوْلُ بِالتَّوَاتِرِ الْمُتَعَبَّدُ بِتِلاَوَتِهِ

Al-Qur’an adalah Kalamullah yang merupakan mu’jizat yang ditunukan kepada nabi Muhammad SAW, yang disampaikan kepada kita secara mutawatir dan dijadikan membacanya sebagai ibadah.

Keterangan dari defini di atas adalah sebagai berikut:

1. (كلام الله) Kalam Allah.

Bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah yang Allah ucapkan kepada Rasulullah SAW melalui perantaraan malaikat Jibril as. Firman Allah merupakan kalam (perkataan), yang tentu saja tetap berbeda dengan kalam manusia, kalam hewan ataupun kalam para malaikat.

Allah berfirman (QS. 53 : 4) :

إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

2. (المعجز) Mu’jizat.

Kemu’jizaan Al-Qur’an merupakan suatu hal yang sudah terbukti dari semejak zaman Rasulullah SAW hingga zaman kita dan hingga akhir zaman kelak. Dari segi susunan bahasanya, sejak dahulu hingga kini, Al-Qur’an dijadikan rujukan oleh para pakar-pakar bahasa. Dari segi isi kandungannya, Al-Qur’an juga sudah menunjukkan mu’jizat, mencakup bidang ilmu alam, matematika, astronomi bahkan juga ‘prediksi’ (sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Rum mengenai bangsa Romawi yang mendapatkan kemenangan setelah kekalahan), dsb. Salah satu bukti bahwa Al-Qur’an itu merupakan mu’jizat adalah bahwa Al-Qur’an sejak diturunkan senantiasa memberikan tantangan kepada umat manusia untuk membuat semisal ‘Al-Qur’an tandingan’, jika mereka memiliki keraguan bahwa Al-Qur’an merupakan kalamullah. Allah SWT berfirman (QS. 2 : 23 - 24):

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ* فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ*

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”

Bahkan dalam ayat lainnya, Allah menantang mereka-mereka yang ingkar terhadap Al-Qur’an untuk membuat semisal Al-Qur’an, meskipun mereka mengumpulkan seluruh umat manusia dan seluruh bangsa jin sekaligus (QS. 17 : 88):

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

“Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".

3. (المنزل على قلب محمد صلى الله عليه وسلم) Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Bahwa Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah SWT langsung kepada Rasulullah SAW melalui perantaraan malaikat Jibril as. Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an (QS. 26 : 192 - 195)

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ* نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأَمِينُ* عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ *

“Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”

4. (المنقول بالتواتر) Diriwayatkan secara mutawatir.

Setelah Rasulullah SAW mendapatkan wahyu dari Allah SWT, beliau langsung menyampaikan wahyu tersebut kepada para sahabatnya. Diantara mereka terdapat beberapa orang sahabat yang secara khusus mendapatkan tugas dari Rasulullah SAW untuk menuliskan wahyu. Terkadang Al-Qur’an ditulis di pelepah korma, di tulang-tulang, kulit hewan, dan sebagainya. Diantara yang terkenal sebagai penulis Al-Qur’an adalah: Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah, Ubai ibn Ka’b dan Zaid bin Tsabit. Demikianlah, para sahabat yang lain pun banyak yang menulis Al-Qur’an meskipun tidak mendapatkan instruksi secara langsung dari Rasulullah SAW. Namun pada masa Rasulullah SAW ini, Al-Qur’an belum terkumpulkan dalam satu mushaf sebagaimana yang ada pada saat ini.

Pengumpulan Al-Qur’an pertama kali dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar Al-Shidiq, atas usulan Umar bin Khatab yang khawatir akan hilangnya Al-Qur’an, karena banyak para sahabat dan qari’ yang gugur dalam peperangan Yamamah. Tercatat dalam peperangan ini, terdapat tiga puluh sahabat yang syahid. Mulanya Abu Bakar menolak, namun setelah mendapat penjelasan dari Umar, beliaupun mau melaksanakannya. Mereka berdua menunjuk Zaid bin Tsabit, karena Zaid merupakan orang terakhir kali membacakan Al-Qur’an di hadapan Rasulullah SAW sebelum beliau wafat. Pada mulanya pun Zaid menolak, namun setelah mendapatkan penjelasan dari Abu Bakar dan Umar, Allah pun membukakan pintu hatinya. Setelah ditulis, Mushaf ini dipegang oleh Abu Bakar, kemudian pindah ke Umar, lalu pindah lagi ke tangan Hafshah binti Umar. Kemudian pada masa Utsman bin Affan ra, beliau memintanya dari tangan Hafsah. (Al-Qatthan, 1995 : 125 – 126).

Kemudian pada Utsman bin Affan, para sahabat banyak yang berselisih pendapat mengenai bacaan (baca; qiraat) dalam Al-Qur’an. Apalagi pada masa beliau kekuasan kaum muslimin telah menyebar sedemikian luasnya. Sementara para sahabat terpencar-pencar di berbagai daerah, yang masing-masing memiliki bacaan/ qiraat yang berbeda dengan qiraat sahabat lainnya. (Qiraat sab’ah). Kondisi seperti ini membuat suasana kehidupan kaum muslimin menjadi sarat dengan perselisihan, yang dikhawatirkan mengarah pada perpecahan. Pada saat itulah, Hudzifah bin al-Yaman melaporkan ke Utsman bin Affan, dan disepakati oleh para sahabat untuk mrnyslin mushaf Abu Bakar dengan bacaan/ qiraat yang tetap pada satu huruf. Utsman memerintahkan kepada (1) Zaid bin Tsabit, (2) Abdullah bin Zubair, (3) Sa’d bin ‘Ash, (4) Abdul Rahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalin dan memperbanyak mushaf. Dan jika terjadi perbedaan diantara mereka, maka hendaknya Al-Qur’an ditulis dengan logat Quraisy. Karena dengan logat Quraisylah Al-Qur’an diturunkan. Setelah usai penulisan Al-Qur’an dalam beberapa mushaf, Utsman mengirimkan ke setiap daerah satu mushaf, serta beliau memerintahkan untuk membakar mushaf atau lembaran yang lain. Sedangkan satu mushaf tetap di simpan di Madinah, yang akhirnya dikenal dengan sebutan mushaf imam. Kemudian mushaf asli yang dipinta dari Hafsah, dikembalikan pada beliau. Sehingga jadilah Al-Qur’an dituliskan pada masa Utsman dengan satu huruf, yang sampai pada tangan kita. (Al-Qatthan, 1995 : 128 – 131)

5. (المتعبد بتلاوته) Membacanya sebagai ibadah.

Dalam setiap huruf Al-Qur’an yang kita baca, memiliki nilai ibadah yang tiada terhingga besarnya. Dan inilah keistimewaan Al-Qur’an, yang tidak dimiliki oleh apapun yang ada di muka bumi ini. Allah berfirman (QS. 35 : 29 – 39)

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ*

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ*

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga pernah mengatakan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ (رواه الترمذي)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al-Qur’an), maka ia akan mendapatkan satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim sebagai satu haruf. Namun Alif merupakan satu huruf, Lam satu huruf dan Mim juga satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Konsekwensi Keimanan Terhadap Al-Qur’an.

Sebenarnya Allah SWT tidak pernah memaksa umat manusia untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup mereka. Allah hanya memberikan yang terbaik dan yang lpaling sesuai dengan manusia dalam menapaki serta meniti jalan kehidupan ini agar mereka mendapatkan kebahagian hakiki baik di dunia maupun di akhirat. Hanya mereka-mereka yang dapat berfikir sehatlah, yang mau menjadikan Al-Qur’an sebagai kitabul hidayah dalam segala aspek kehidupan mereka. Bagi mereka yang memiliki keimanan kepada Allah, terdapat beberapa hal yang menjadi konsekwensi keimanan mereka terhadap Al-Qur’an, yaitu:

1. (الأنس به) Senantiasa ‘dekat’ dengan Al-Qur’an.

Dekat dengan Al-Qur’an maksudnya adalah senantiasa memiliki keinginan untuk berinteraksi secara dekat dengan Al-Qur’an. Interaksi ini tergambarkan dalam dua hal:

a) (تعلمه) Mempelajarinya.

Al-Qur’an ibarat lautan yang sarat dengan mutiara-mutiara yang tiada terhingga jumlahnya. Dari sisi manapun kita membuka lembaran-lembaranya, akan kita jumpai hal-hal yang tidak pernah kita dapatkan sebelumnya di manapun. Oleh karena itulah, mempelajari Al-Qur’an merupakan satu hal yang teramat sangat penting dalam kehidupan manusia. Generasi awal umat ini dapat maju dan menjadi pemimpin dunia, adalah karena mereka benar-benar mempelajari Al-Qur’an untuk kemudian diamalkannya. Mempelajari Al-Qur’an mecakup beberapa aspek:

· (تلاوة) Dari sisi tilawahnya, mencakup tajwid, makharijul huruf, qiraah dan lain sebagainya. Sehingga dirinya dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Karena jika terdapat kesalahan dalam membaca, berakibat pada perubahan maknanya. Dalam sebuah hadits dikatakan:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ (رواه مسلم)

Dari Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Seseroang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an, kelak ia akan dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia dan suci. Dan orang yang masih terbata-bata membacanya lagi berat, maka ia akan mendapatkan pahala dua kali lipat. (HR. Muslim)

· (فهما) Dari sisi pemahamannya, mencakup masalah ibadah, muamalah, jihad, dan lain sebagainya. Pemahaman sangat penting karena merupakan pijakan dalam mengaplikasikannya dalam kehidupan riil. Tanpa pemahaman yang baik, tentulah akan sulit dalam merealisasikan Al-Qur’an pada kehidupan nyata. Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an mengenai mereka-mereka yang tidak mau memahami ayat-ayat Allah (QS. 7 : 179):

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُونَ بِهَا

وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

· (تطبيقا) Dari sisi perealisasiannya, mencakup bidang ekonomi, sosial, politik dsb. Karena merealisasikan Al-Qur’an dalam kehidupan nyata merupakan perintah Allah kepada seluruh umat Islam. Artinya hal ini sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan. Allah berfirman (QS. 5 : 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

· (حفظا) Dari sisi menghafal ayat-ayat dan surat-surat dalam Al-Qur’an. Karena menghafal Al-Qur’an memiliki keistimewaan tersendiri. Dahulu para sahabat, kebanyakan dari mereka hafal Al-Qur’an. Demikian juga para salafuna shaleh, serta para Imam-Imam kaum muslimin. Ahli Tafsir pun memberikan syarat kehursan hafal Al-Qur’an bagi siapa saja yang ingin menjadi penafsirnya. Mengenai keutamaan penghafal Al-Qur’an Rasulullah SAW pernah bersabda:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَحَفِظَهُ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ اسْتَوْجَبُوا النَّارَ (رواه ابن ماجه)

Dari Ali bin Abi Thalib, ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga dan memberinya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya yang telah ditetapkan masuk neraka. (HR. Ibnu Majah)

b) (تعليمه) Mengajarkannya pada orang lain.

Sebagai seorang muslim yang baik, tidak akan merasa cukup dengan mempelajarinya saja untuk kemudian dijadikan bekal bagi dirinya sendiri. Namun lebih dari itu, setiap muslim memiliki kewajiban untuk mengajarkannya kepada orang lain. Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan bahwa pengajar Al-Qur’an adalah sebaik-baik mu’min:

عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخاري)

Dari Utsman ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya). (HR. Bukhari)

Mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain juga mencakup empat hal dalam mempelajarinya, yaitu, dari segi tilawah, pemahaman, pengaplikasian dan penghafalannya.

2. (تربية النفس به) Mentarbiyah diri dengan Al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan Kitabul Hidayah, yang dapat merubah suatu kondisi masyarakat dari kejahiliyahan menuju masyarakat Islam. Rasulullah SAW telah membuktikannya dengan merubah kondisi bangsa Arab yang suka peperangan, perampasan hak, kedustaan, khomer, perzinaan, pembunuhan, riba dan lain sebagainya menjadi masyarakat yang cinta perdamaian, persamaan hak, kejujuran, kasih sayang, keadilan dan lain sebagainya. Kesemuanya dapat dilakukan karena Al-Qur’an merupakan kitabul hidayah; memberikan hidayah kepada manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam yang terang benderang. Al-Qur’an banyak sekali mengungkapkan mengenai fungsi Al-Qur’an sebagai kitabul hidayah, diantaranya adalah:

الم* ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ*

“Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

3. (التسليم لأحكامه) Menerima sepenuh hati segala hukum yang terdandung di dalamnya.

Jika kita memahami bahwa bahwa Al-Qur’an merupakan Kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW, tentulah kita akan dengan segera melaksanakan isi kandungan dari Al-Qur’an. Karena segala perintah, larangan, pesan atau apapun yang terdapat di dalamnya, merupakan perintah, larangan, pesan dari Allah SWT. Dan di sinilah keimanan kita akan diuji oleh Allah SWT. Orang yang beriman, ia akan dengan segera melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman (QS. 33 : 36)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ

وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

4. (الدعوة إليه) Berda’wah (mengajak) orang lain kepada Al-Qur’an.

Karena kita meyakini bahwa hanya Al-Qur’anlah satu-satunya pedoman hidup yang dapat membahagiakan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Hanya Al-Qur’anlah yang dapat memberikan keteduhan, ketenangan dan kesejukan dalam tiap diri insan. Al-Qur’an telah terbukti menjadikan umat Islam mampu menjadi pemimpin dunia dalam kurun waktu yang relatif lama. Al-Qur’an juga mampu merubah kondisi suatu bangsa dari jurang kebobrokan menuju puncak kemuliaan. Oleh karena itulah, salah satu konsekwensi keimanan kita kepada Al-Qur’an adalah mengajak mereka dengan cara yang bijak untuk bersama-sama menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Allah SWT mengatakan (QS. 16 : 125)

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ

أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

5. (إقامته في الأرض) Menegakkannya di muka bumi.

Allah SWT telah menuntut pada kaum-kaum yang terdahulu untuk menegakkan agama-Nya di muka bumi, maka demikian pula halnya dengan umat Islam. Allah menuntut pada kita untuk menegakkan agama-Nya, dengan menegakkan Al-Qur’an. Menegakkan Al-Qur’an adalah dengan menegakkan hukum-hukumnya di muka bumi yang menjadi hukum seluruh umat manusia di manapun mereka berada. Allah SWT berfirman (QS. 42 : 13)

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

“Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”

Karena sesungguhnya Allah SWT telah memberikan janji untuk menegakkan agama ini sebagaimana telah ditegakkan oleh umat-umat sebelum kita. Bagaimanapun kondisinya, suatu ketika Al-Islam akan menjadi pedoman hidup dan hukum yang menjadi acuan bagi kehidupan seluruh umat manusia. Allah mengatakan (QS. 24 : 55)

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ

بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Al-Qur’an Sebagai Minhajul Hayah.

Konsepsi inilah yang pada akhirnya dapat mengeluarkan umat manusia dari kejahiliyahan menuju cahaya Islam. Dari kondisi tidak bermoral menjadi memiliki moral yang sangat mulia. Dan sejarah telah membuktikan hal ini terjadi pada sahabat Rasulullah SAW. Sayid Qutub mengemukakan (1993 : 14) :

“Bahwa sebuah generasi telah terlahir dari da’wah – yaitu generasi sahabat – yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam sejarah umat Islam, bahkan dalam sejarah umat manusia secara keseluruhan. Generasi seperti ini tidak muncul kedua kalinya ke atas dunia ini sebagaimana mereka… Meskipun tidak disangkal adanya beberapa individu yang dapat menyamai mereka, namun tidak sama sekali sejumlah besar sebagaimana sahabat dalam satu kurun waktu tertentu, sebagaiamana yang terjadi pada periode awal dari kehidupan da’wah ini…”

Cukuplah kesaksian Rasulullah SAW menjadi bukti kemulyaan mereka, manakala beliau mengatakan dalam sebuah haditsnya:

عن عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Dari Imran bin Hushain ra, Rasulullah SAW bersabda: ‘Sebaik-baik kalian adalah generasi yang ada pada masaku (para sahabat) , kemudian generasi yang berikutnya (tabi’in) , kemudian generasi yang berikutnya lagi (atba’ut tabiin). (HR. Bukhari)”

Imam Nawawi secara jelas mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan ‘generasi pada masaku’ adalah sahabat Rasulullah SAW. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga mengemukakan mengenai keutamaan sahabat:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ (رواه البخاري)

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Karena sekiranya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya ia tidak akan dapat menyamai keimanan mereka, bahkan menyamai setengahnya pun tidak. (HR. Bukhari).

Sayid Qutub mengemukakan (1993 : 14 – 23) , terdapat tiga hal yang melatar belakangi para sahabat sehingga mereka dapat menjadi khairul qurun, yang tiada duanya di dunia ini. Secara ringkasnya adalah sebagai berikut:

pertama, karena mereka menjadikan Al-Qur'an sebagai satu-satunya sumber petunjuk jalan, guna menjadi pegangan hidup mereka, dan mereka membuang jauh-jauh berbagai sumber lainnya.

Kedua, ketika mereka membacanya, mereka tidak memiliki tujuan untuk tsaqofah, pengetahuan, menikmati keindahannya dan lain sebainya. Namun mereka membacanya hanya untuk mengimplementaikan apa yang diinginkan oleh Allah dalam kehidupan mereka.

Ketiga, mereka membuang jauh-jauh segala hal yang berhubungan dengan masa lalu ketika jahiliah. Mereka memandang bahwa Islam merupakan titik tolak perubahan, yang sama sekali terpisah dengan masa lalu, baik yang bersifat pemikiran maupun budaya.

Dengan ketiga hal inilah, generasi sahabat muncul sebagai generasi terindah yang pernah terlahir ke dunia ini. Di sebabkan karena ‘ketotalitasan’ mereka ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an, yang dilandasi sebuah keyakinan yang sangat mengakar dalam lubuk sanubari mereka yang teramat dalam, bahwa hanya Al-Qur’an lah satu-satunya pedoman hidup yang mampu mengantarkan manusia pada kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat.

Penutup

Tinggallah dua pilihan masih ternganga di hadapan kita; antara jaya dengan Al-Qur’an, atau binasa dengan meninggalkannya. Sejarah telah berbicara sebagai fakta abadi; bahwa umat ini dapat memperoleh izzahnya dengan Al-Qur’an. Dan merekapun Allah kerdilkan karena meninggalkan Al-Qur’an. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan:

عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ

أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

Dari Umar bin Khatab ra. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (al-Qur’an), dengan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim)

Wallahu A’lam Bis Shawab.

By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag.

Bahan Bacaan

Hadiri, Choiruddin. Klaifikasi Kandungan Al-Qur’an. 1996. Cet. V. Jakarta – Indonesia : Gema Insani Press.

Al-Qatthan, Manna’. Mabahits fi Ulumil Qur’an. 1995 – 1416 H. Cet. XXVII. Beirut – Libanon : Mu’assasah al-Risalah.

Quthb, Sayyid. Ma’alim fi Al-Thariq. 1993 – 1413 H. Cet. XVII. Beirut – Libanon / Kairo - Mesir: Dar Al-Syuruq.

Syahbah, Muhammad ibn Muhammad. Al-Sirah Al-Nabawiyah Fi Dhau’ Al-Qur’an wa Al-Sunnah : Dirasah Muharrarah, Jama’at Bain Ashalah Al-Qadim wa Jiddatil Hadits. 1996 – 1417 H. Cet. III. Damaskus : Dar Al-Qalam.

CD. ROM. Fi Dzilal Al-Qur’an. Versi 1.6. Amman – Yordania : Dar Husibah al-Nash al-Araby (Arabic Text ware).

CD. ROM. Al-Qur’an 6.50 & Al-Hadits. Syirkah Sakhr li Baramij al-Hasib (1991 – 1997).

CD. ROM. Mausu’ah al-Hadits al-Syarif 2.00 (Al-Ishdar al-Tsani). Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah.

Keutamaan Baca & Kaji Al-Quran


At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran
IMAM NAWAWI
1. “Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(Riwayat Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari dalam shahihnya)

2. Diriwayatkan daripada Aisyah ra, katanya: Rasulullah saw bersabda:
Terjemahan: “Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari dan

Abul Husain Muslim bin Al-Hujjaj bin Muslim Al-Qusyaiy An-Nisabury dalam dua kitab Shahih mereka.
(Riwayat Bukhari & Muslim)

3. Diriwayatkan daripada Abu Musa Al-Asy’aru ra, katanya: Rasulullah saw bersabda:
Terjemahan: “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujjah yang baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma yang tidak berbau sedang rasanya enak dan manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti raihanah yang baunya harum sedang rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti hanzhalah yang tidak berbau sedang rasanya pahit.”
(Riwayat Bukhari & Muslim)

4. Diriwayatkan dari Umar bin Al-Kattab ra, bahwa Nabi saw bersabda:
Terjemahan: “Sesunggunya Allah swt mengangkat darjat beberapa golongan manusia dengan kalam ini dan merendahkan darjat golongan lainnya.”
(Riwayat Bukhari & Muslim)

5. Diriwayatkan daipada Abu Umamah ra, katanya: Aku medengar Rasulullah saw bersabda:
Terjemahan: “Bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang pada hari Kiamat sebagai juru syafaat bagi pembacanya.”
(Riwayat Muslim)

6. Diriwayatkan dari pada Ibnu Umar ra, dari pada Nabi saw Baginda Bersabda:
Terjemahan: “Tidak bisa iri hati, kecuali kepada dua seperti orang: yaitu orang lelaki yang diberi Allah swt pengetahuan tentang Al-Qur’an dan diamalkannya sepanjang malam dan siang; dan orang lelaki yang dianugerahi Allah swt harta, kemudian dia menafkahkannya sepanjang malam dan siang.”
(Riwayat Bukhari & Muslim)

Telah saya sebut pula dari Abdullah bin Mas’ud ra dengan lafaz:
Terjemahan: “Tidak bisa iri hati, kecuali kepada dua macam orang: yaitu orang lelaki yang dianugerahi Allah swt harta, kemudian dia membelanjakannya dalam keperluan yang benar. Dan orang lelaki yang dianugerahi Allah swt hikmah (Ilmu), kemudian dia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya.”

7. Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas’ud ra, katanya: Rasulullah saw bersabda:
Terjemahan: “Barangsiapa membaca satu huruf Kitab Allah, maka dia mendapat pahala satu kebaikan sedangkan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif, satu huruf dan Lam satu huruf serta Mim satu huruf.”

(Riwayat Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi dan katanya: hadits Hasan Shahih)

8. Diriwayatkan daripada Abu Said Al-Khudri ra daripada NabI saw Baginda bersabda, Allah berfirman:
Terjemahan: “Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-KU, maka Aku berikan kepadanya sebiak-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti, keutamaan Allah atas makhluk-Nya.
(Riwayat Tirmidzi dan katanya: hadits hasan)

9. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya: Rasulullah saw bersabda:
Terjemahan: “Sesungguhnya orang yang tidak terdapat dalam rongga badannya sesuatu dari Al-Qur’an adalah seperti rumah yang roboh.”
(Riwayat Tirmidzi dan katanya: hadits hasan sahih)

10. Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amrin Ibnul Ash ra dari pada Nabi saw bersabda:
Terjemahan: “Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, bacalah dan naiklah serta bacalah dengan tartil seperti engkau membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.”
(Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’I, Tirmidzi berkata, hadits hasan sahaih)

11. Diriwayatkan dari Mu’adz bin Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda:
Terjemahan: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, Allah memakaikan pada kedua orang tuanya di hari kiamat suatu mahkota yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari di rumah-rumah di dunia. Maka bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang mengamalkan ini.”
(Riwayat Abu Dawud)

12. Ad-Darimi meriwayatkan dengan isnadnya dari Abdullah bin mas’ud daripada Nabi saw:
Terjemahan: “Bacalah Al-Qur’an karena Allah tidak menyiksa hati yang menghayati Al-Qur’an. Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah jamuan Allah, maka siapa yang masuk di dalamnya, dia pun aman. Dan siapa mencintai Al- Qur’an, maka berilah kabar gembira.”

13. Diriwayatkan daripada Abdul Humaidi Al-Hamani, katanya: “Aku bertanya kepada Sufyan Ath-Thauri, manakah yang lebih engkau sukai, orang yang berperang atau orang yang membaca Al-Qur’an?” Sufyan menjawab : “Membaca Al-Qur’an. Karena Nabi saw bersabda. ‘Orang yang terbaik di antara
kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

KELEBIHAN ORANG YANG MEMBACA AL-QUR’AN

1. Ibnu Mas’ud Al-Anshari Al-Badri ra meriwayatkan dari Nabi saw, sabdanya:
Terjemahan: “Orang yang paling berhak menjadi imam dari suatu kaum adalah orang yang terpandai membaca Kitab Allah diantara mereka. Jika mereka sama taraf dari segi bacaan, maka yang lebih mengetahuai tentang sunnah.”
(Riwayat Muslim)

2. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas raa, katanya “adalah para pembaca Al- Qur’an hadir di majlis Umar ra bermusyawarah dengannya, terdiri dari orang tua dan pemuda.”
(Riwayat Bukhari dalah shahihnya)

Ingatlah bahwa madzhab yang shahih dan terpilih yang diambilkan para ulama ialah bahwa membaca Al-Qur’an adalah lebih utama dari membaca Tasbih dan tahlil serta zikir-zikir lainnya. Banyak dalil kuat yang mendukung hal itu, Wallahua’lam.

Thursday, October 2, 2008

Mukjizat Bahasa Al-Quran


Kebesaran kitab suci al-Quran tidak dapat disangkal lagi oleh orang yang mengetahui akan keajaibannya. Orang yang berakal belum tentu mengetahui akan mukjizat terbesar al-Quran yang merupakan mu’jizat sepanjang zaman. Banyak sejarah menceritakan tentang umat-umat terdahulu yang berakal tetapi tidak mahu menggunakan akal fikiran mereka untuk berfikir. Apabila mereka berfikir banyak pula daripada mereka yang menolak kebenaran disebabkan oleh kebodohon dan ketaksuban mereka terhadap agama nenek moyang mereka. Pada hal akal mereka mengetahui kebenaran sebenar.

Ya’qilun dan Ya’lamun.

Di sini terdapat perbezaan di antara berakal dan orang yang mengetahui. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Allah S.W.T. dalam firmannya: “…biarpun mereka sedikitpun tidak mengerti dan tidak mendapat petunjuk”.

Kalimah “tidak mengerti” dalam ayat ini adalah terjemah kepada kalimah laa ya’qilun (لا يعقلون), surah al-Baqarah, ayat 170. Dalam ayat lain, ayat 104, surah al-Maidah, Allah S.W.T. berfirman lagi :

“…biarpun mereka sedikitpun tidak mengerti dan tidak mendapat petunjuk”.

Dalam ayat ini Allah S.W.T. menggunakan kalimah laa ya’lamun (لايعلمون) yang membawa maksud ‘tidak mengetahui’. Di sini kita dapat lihat perbezaan di antara keduanya. Hal ini banyak menimbulkan persoalan di kalangan orientalis yang mengatakan bahawa kedua-dua kalimah « ya’qilun » dan « ya’lamun » itu sama maksudnya. Ilmu dan akal, ataupun akal dan ilmu itu adalah satu. Orang yang berakal ialah orang yang mengetahui, ataupun orang yang dapat menerima ilmu. Sebab itu mereka mengatakan maknanya sama sahaja.

Tetapi Kalamullah tidak ada tandingannya, para orientalis itu tidak beriman dengan al-Quran, bagaimana mereka itu dapat berhujah berkenaan al-Quran? Sekiranya mereka dapat berhujah dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan akal semata-mata sudah pasti mereka itu akan beriman dengan al-Quran. Sekiranya diteliti kedua ayat ini, kalimah « ya’qilun » itu digunakan sebagai menyatakan bahawa mereka itu (musyrikun) menafikan kebenaran disebabkan mereka itu memang pada hakikatnya mempunyai akal tetapi belum tahu apa-apa tentang Allah yang satu, sebab itu mereka menolak apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W. Pada ayat yang menggunakan kalimah « ya’lamun », di sini menceritakan bahawasanya mereka itu berakal, kemudian mereka telah mengetahui kebenaran, tetapi masih bersikap bodoh dengan pengetahuan mereka, sebab itu mereka tidak diberikan hidayah atau petunjuk.

Bahasa al-Quran tiada tandingannya. Balaghah al-Quran sangat halus dan luarbiasa sehinggakan tidak ada seorangpun yang dapat menandinginya walaupun para penyair yang tersohor di dunia ini.

Syair dan Kalamullah.

Cuba kita datangkan seorang penyair arab yang terhebat dan kita minta penyair itu membina sebuah syair (pantun atau sajak) yang paling hebat daripada akalnya sebagai menandingi surah al-Fatihah sehingga tidak terlawan oleh penyair handalan yang lain, kemudian kita aplikasikan syair arab itu dalam solat kita sebagai menggantikan surah al-Fatihah, apakah syair yang hebat itu dapat menandingi kehebatan Kalamullah surah al-Fatihah yang hanya tujuh ayat? Penulis yakin hanya beberapa kali ulangan syair itu, sudah pasti jemu untuk mengulanginya, bahkan mungkin ada yang berkata “syair apakah ini?” Hal ini dikuatkan lagi dengan firmanNya:
“Kami tiada mengajarkan syair (pantun) kepadanya (Muhammad), dan syair itu tiada patut baginya. Dia tidak lain, hanya peringatan dan Quran yang terang” (Yaasin 36: 69).

Cuba kita tanya diri kita, sudah berapa ribu kali kita membaca surah al-Fatihah dalam solat dan di luar solat? Pernahkah kita jemu mengulanginya, pernahkah kita merasai sesuatu yang tidak kena pada ayat-ayat dalam surah al-Fatihah? Cukup indah susunan ayat-ayatnya. Ayat-ayatnya ringkas tetapi maksud ayat-ayatnya memerlukan penafsiran yang berjilid-jilid.

Sehingga ke hari ini ramai yang mendalami surah al-Fatihah dari sudut balaghah, bahasa, penafsiran dan lain-lain yang bersangkutan dengan surah al-Fatihah itu sendiri, walhal ayatnya hanya tujuh sahaja. Walaupun tujuh ayat tetapi masih ramai yang salah dalam melafazkan ayat-ayatnya, sehinggakan terpaksa belajar ‘alif-ba-ta’ semula kerana mahu menyebut Kalamullah dalam surah al-Fatihah dengan tartil dan mengikut seperti bacaan Rasulullah S.A.W. Hanya tujuh ayat tetapi berbagai-bagai ragamnya.

Apa itu Mu’jizat?

Mukjizat adalah suatu perkara luar biasa dari undang-undang alam, ataupun kebiasaan alam. Allah S.W.T. telah mengurniakan Mukjizat itu kepada RasulNya untuk menunjukkan dasar-dasarNya serta menetapkan mereka di atas dasar-dasar tersebut. Di samping itu Allah S.W.T. mengingatkan manusia, bahawasanya para Rasul itu adalah utusan-utusanNya yang mendapat sokongan dan bantuan dari langit. Dan apabila sesuatu perkara itu mendapat sokongan dan bantuan dari langit, nescaya ia akan melumpuhkan segala undang-undang dan kebiasaan manusia dan menjadikannya lumpuh ketika berhadapan dengan perkara itu. (rujuk: Mu’jizat al-Quran, Muhammad Mutawalli Sya’rawi (penterjemah: Syed Ahmad Semait), Singapura, ms. 6), atau (lihat: Risalah fi al-I’jaz al-Qurani, Dr Radwan Jamal al-Atrash, UIA, fasal pertama).

Antara ciri-ciri Mu’jizat itu salah satunya ialah, perkara itu tidak pernah terfikir oleh akal akan berlakunya perkara itu, ianya di luar batas pemikiran manusia dan tidak terlawan oleh seorangpun akan perkara itu melainkan Allah, sehingga tercabar akal mereka untuk menerima hakikat terjadinya perkara itu. Sebagai contoh, Allah S.W.T. telah membatalkan sifat panas pada api yang membakar Nabi Ibrahim a.s. Pernahkah terfikir oleh umat ketika itu tentang api yang sifatnya memang panas membakar tetapi sebaliknya menjadi sejuk ketika membakar Nabi Allah Ibrahim a.s., walhal pada ketika itu api terus menyala dan makin membesar.
Allah S.W.T. boleh menurunkan hujan supaya api itu padam dan tidak membakar Nabi Ibrahim a.s., tetapi perkara itu tidak mencabar akal mereka dan mereka pasti mengatakan yang hujan itu diturunkan sebab kuasa tuhan berhala mereka. Nabi Ibrahim a.s. sendiri gentar akan api yang menyala, baginda sendiri tidak menyangka yang api itu akan bertukar menjadi sejuk. Allah S.W.T. sendiri yang memberi arahan kepada api untuk menukar tabiatnya menjadi sejuk, sebagaimana firmanNya :

“Perintah Kami (Tuhan): Wahai api! Jadilah engkau dingin dan selamat atas Ibrahim”(al-Anbiya’: 69)

Walaupun begitu, kita perlu faham dengan jelas, mu’jizat itu bukanlah dimaksudkan untuk mencabar sesiapa, tetapi ia menunjukkan kehebatan dan keagungan Allah yang Maha Berkuasa. Dia dapat melakukan segala apa yang dikehendakiNya.

Al-Quran merupakan mu’jizat yang kekal selama-lamanya, tidak seperti Kitab-Kitab terdahulu yang merupakan mu’jizat yang telah ditetapkan waktu ke atasnya. Mengapa al-Quran dikatakan mu’jizat sepanjang zaman? Ini terbukti dengan setiap kejadian-kejadian baru seperti bala Tsunami, jerebu, dan banyak lagi peristiwa-peristiwa terkini ternyata terdapat dalam al-Quran. Kajian-kajian Sains seperti proses kejadian anak juga disebut di dalam al-Quran, pada hal penemuan Sains itu boleh dikatakan baru sahaja ditemui. Yakinlah, perkara-perkara yang bakal berlaku kelak pasti akan terjawab dengan al-Quran. Al-Quran menghurai setiap perkara, dan bukanlah setiap perkara baru yang menghurai al-Quran. Hal ini perlu difahami dengan jelas oleh setiap Muslim.

Pada zaman baginda Rasulullah S.A.W. merupakan zaman kegemilangan para penyair. Para penyair Arab ini diangkat menjadi menteri-menteri dan orang-orang yang cukup berpengaruh di kalangan Arab pada ketika itu. Mereka ini dipuja, dihormati, dan diangkat menjadi golongan yang tersohor. Sebab itu al-Quran merupakan mu’jizat baginda yang terbesar kerana ianya diturunkan pada zaman yang cukup terkenal dengan kehebatan para penyair. Para penyair ini rasa tercabar dengan kehebatan bahasa, balaghah dan ayat-ayatNya yang terlalu tinggi nilainya, sehingga akhirnya mereka menyerah kalah dengan ketinggian bahasa, balaghah, makna, lafaz, dan susunan ayat-ayat al-Quran.

Saidina Umar dan Mu’jizat al-Quran.

Inilah mu’jizat al-Quran. Dengan beberapa potong ayat sahaja dapat mematikan kemarahan Umar r.a. Beliau dikenali dengan sifat keberanian dan kemarahan. Tidak ada sesiapapun berani menentang beliau yang sedang marah. Allah S.W.T. yang mengetahui rahsia setiap sesuatu. Ketika beliau sedang panas-baran selepas mengetahui tentang keIslaman adiknya (Fatimah), lalu beliau berazam mahu membunuh adiknya, tetapi belum sempat membunuh, beliau sendiri tersentak apabila mendengar adiknya melafazkan kalimah yang tidak pernah didengarinya sebelum ini dari awal surah Taha.

Kuasa marahnya itu lentur seketika itu juga. Adakah syair Arab dapat melentur kemarahan Umar al-Khattab sebagaimana bahasa al-Quran? Pada hal beliau sendiri tidak memahami sepenuhnya maksud ayat-ayat al-Quran yang dibacakan adiknya, dan sebelumnya beliaulah orang yang paling menentang baginda S.A.W. Inilah yang dikatakan mu’jizat sehingga mencairkan rasa marah Umar lantas terus melafazkan syahadah di hadapan Rasulullah S.A.W. seketika selepas peristiwa itu. Memang ianya berlawanan dengan logika pemikiran kita, hanya sekadar bahasa dapat mengetuk pintu hati Umar r.a.



Mu’jizat Bahasa di Dalam al-Quran (I’jaz Lughawi fi al-Quran).

Allah berfirman dalam surah al-Mujaadilah, ayat 1: “...Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat”

Mari kita renung sejenak keunggulan dan ketinggian bahasa al-Quran. Pernahkah kita ketemu ayat yang menyebut “penglihatan” dahulu, kemudian barulah disusuli dengan “pendengaran”? Jawapannya ialah ‘tiada’ sama sekali. ٍSebagai contoh, rujuk ayat di atas.

Sekiranya wujud “penglihatan” mendahului “pendengaran”, penulis yakin itu bukanlah al-Quran tetapi ianya adalah al-Quran yang telah dipalsukan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Setiap ayat yang menyebut tentang penglihatan dan pendengaran, pasti pendengaran itu yang didahulukan. Mengapa tidak penglihatan?

Dalam perbualan seharian kita, seringkali kita menyebut “penglihatan dan pendengaran”, jarang sekali dan barangkali tidak pernah menyebut “pendengaran dan penglihatan”. Sebagai contoh, cuba rujuk surah al-Baqarah, ayat 7 yang bermaksud “Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka, dan atas penglihatan-penglihatan mereka ditutup, dan untuk mereka itu seksa yang besar”. Cuba kita lihat pula ayat 22, surah Fusshilat “Dan kamu tiada dapat menyembunyikan diri supaya menyaksikan atas kamu pendengaran kamu dan penglihatan-penglihatan kamu”. Boleh juga lihat pada ayat-ayat lain yang ada menyebut tentang pendengaran dan penglihatan, pasti didahului dengan pendengaran kemudiannya baru disusuli dengan penglihatan.

Di sini menjelaskan bahawa pendengaran merupakan anggota yang lebih utama daripada penglihatan. Manakan tidak, orang yang buta tidak dapat melihat seluruh isi alam, bebannya lebih besar, dia akan melanggar apa sahaja di depannya. Tetapi jika hilang pendengaran, ia masih boleh melihat, musibahnya masih lebih ringan berbanding si buta. Lebih baik tidak mendengar daripada tidak melihat. Justeru, didahulukan pendengaran kerana orang yang pekak lebih baik daripada orang buta kerana beban yang ditanggungnya tidak seberat orang buta. Sebab itu boleh dikatakan pendengaran itu lebih utama fungsinya, kehilangannya tidak terlalu membebankan.
Seterusnya, pendengaran merupakan anggota pertama yang berfungsi bagi setiap manusia. Sejak dari dalam perut lagi, si anak akan mendengar setiap apa yang ibunya sebut. Sekiranya ibunya suka membaca al-Quran insya-Allah si anak akan menjadi anak yang cintakan al-Quran apabila dewasa kelak. Begitulah sebaliknya. Nikmat melihat itu akan bermula selepas bayi dilahirkan, itupun masih memakan masa untuk si anak melihat dunia dan seisinya, tidak sejurus selepas dilahirkan.

Juga, jika seorang manusia tidur, maka semua anggotanya ikut bertenang sama, melainkan pendengarannya. Jika anda ingin membangunkan seorang yang sedang tidur dengan meletakkan sesuatu dekat dengan matanya, dia tidak akan merasakannya. Akan tetapi apabila anda melakukan suara bising dekat dengan telinganya, maka ia akan bangun tersentak. Oleh kerana itu jam loceng dicipta bertujuan untuk mengejutkan seseorang daripada tidurnya.

Selain itu, ada satu lagi persoalan timbul, mengapa kalimah ‘pendengaran’ “sam’i” (سمع) digunakan secara mufrad (satu) selalu, dan bila menggunakan kalimah ‘penglihatan’ “abshar” (أبصار) selalu menggunakannya secara jama’ (banyak)? Mengikut kaedah atau undang-undang Nahu (tatabahasa), sekiranya di awalnya mufrad, seterusnya haruslah mufrad, begitu juga sebaliknya. Kalimah Sam’i (سمع) haruslah digandingkan dengan Bashar (بصر), sekiranya mahu menggunakan Abshar (أبصار) haruslah sebelumnya digunakan dengan kalimah Asma’ (أسماع)yang merupakan jama’ bagi kalimah Sam’i(سمع) .

Penglihatan itu adalah suatu pancaindera yang dikuasai oleh manusia dengan kemahuannya sendiri. Kita boleh melihat apa yang kita suka, dan boleh juga tidak melihat apa yang kita tidak suka. Sesuatu perkara yang kita tidak suka lihat, kita boleh pejamkan mata kerana salah satu tugas dan fungsi mata ialah menutup mata. Otak akan memberi arahan kepada mata, dan mata akan menjalankan tugasnya dengan sendirinya tanpa paksaan.

Tetapi tidak pula pendengaran. Pendengaran tugasnya hanya satu iaitu mendengar. Sekiranya kita suka atau tidak suka mendengar, kita tetap mendengar kerana memang itu tugas pendengaran. Sekiranya kita tidak suka mendengar sesuatu perkara, otak tidak boleh memberi arahan kepada pendengaran kita untuk tidak mendengar, melainkan kita terpaksa memasukkan sesuatu untuk menutup lubang pendengaran kita supaya tidak mendengar. Memasukkan sesuatu ke dalam lubang pendengaran supaya tidak mendengar merupakan suatu perkara yang di luar tugasan pendengaran. Telinga tetap mendengar walaupun ianya diganggu dengan sebab lain yang datangnya dari luar kawalan pendengaran.

Sekiranya kita tunjukkan sekeping gambar kepada tiga orang pelajar, dua daripadanya suka kepada gambar itu, maka mata mereka akan tidak akan pejam, tetapi seorang pelajar lagi tidak suka kepada gambar tadi maka dengan sendirinya mata pelajar ini akan pejam kerana memang itu tugas mata. Tetapi sekiranya kita dengarkan kepada tiga orang pelajar ini dengan satu bunyi, sekiranya ketiga-tiganya, atau, seorang, atau dua daripadanya tidak suka mendengar bunyi tersebut, mereka tetap akan mendengar melainkan mereka terpaksa menggunakan tangan untuk menutup pendengaran mereka, walaupun tertutup telinga dengan tangan mereka tetapi telinga tetap terus menjalankan tugasnya iaitu mendengar.

Di sini jelas kepada kita bahawasanya mata itu banyak ragamnya, fungsinyapun pelbagai, sebab itu Allah S.W.T. hanya menggunakan perkataan jama’ pada kalimah Abshar (penglihatan-penglihatan). Sebab mufrad pada kalimah Sam’i (pendengaran) dalam ayat al-Quran telah menjelaskan yang ragam pendengaran ini cuma satu iaitu mendengar. Inilah dia mu’jizat bahasa al-Quran, tiada yang lebih terperinci melainkan ia. Dengan penggunaan perkataan mufrad (Sam’i) dan jama’ (Abshar) itupun sudah memberitahu kita penjelasan yang tidak pernah terfikir oleh kita sebelum ini melainkan bagi mereka yang sudah mengetahui, bukan sekadar ada akal tetapi tidak memikirkan tentang kebesaran Allah.

Hanya dengan satu kalimah sahaja dapat menghuraikan pelbagai persoalan. Inilah dia Mu’jizat al-Quran yang tidak ada suatu ilmupun yang dapat menjelaskan al-Quran tetapi al-Quran itu sendiri yang menjelaskan setiap sesuatu di dunia ini, yang berterusan selama-lamanya.
Sebagai penutup, penulis ingin membawa sepotong ayat al-Quran: “Jika kamu dalam ragu-ragu tentang (Quran) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka perbuatlah olehmu satu surah seumpamanya dan panggillah saksi-saksimu lain daripada Allah, jika kamu orang yang benar”(al-Baqarah, ayat 23).

Sekiranya ada golongan yang ingin mempertikaikan kebesaran al-Quran dari sudut bahasa atau selainnya, maka bacakan kepada mereka firman Allah seperti di atas, nescaya mereka pasti terdiam, buntu, dan gagal untuk mencipta hanya sepotong ayat sepertimana ayat Allah, apatah lagi satu surah daripada al-Quran Kalamullah. Wallahu a’lam.
.:: KEMBARA INSAN MENCARI TUHAN YANG MAHA ESA ::.