Sunday, September 28, 2008

RamadHan Syakhsiyah Da'iyah


1. Pendahuluan
Kerja dakwah yang kita lakukan selama ini telah memiliki ahdaf (sasaran) yang jelas. Bahwa kita menginginkan terbentuknya kader dakwah yang memiliki syakhsiyah islamiyah dan syakhsiyah daiyah. Kepribadian muslim dan kepribadian seorang da'i. Kita tidak sebatas ingin menghasilkan kader yang hanya menikmati dakwah, tetapi yang kita inginkan adalah kader yang mau bergerak untuk dakwah. Sehingga semuanya harus diarahkan untuk tercapainya sasaran ini. Sebagaimana Allah swt berfirman, "Dan tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam." (QS. Al-Anbiya: 107)

2. Syakhsiyah Da'iyah
Sejak awal dakwahnya, Rasulullah saw. selalu berpesan kepada orang-orang yang baru masuk Islam dan menerima berbagai ilmu dari beliau untuk mengajarkan dan menyampaikan ilmu itu kepada orang lain, terutama keluarga. "Sekarang pulanglah kamu ke kampungmu, dan ajarkanlah kepada mereka apa yang telah kamu peroleh dariku," begitulah antara lain pesan yang disampaikan Rasulullah saw. kepada seseorang yang datang dari kampung yang jauh.

Dengan kata lain, tarbiyah mempunyai peranan untuk membentuk pribadi-pribadi yang siap dan mampu untuk mengemban risalah Nabi Muhammad saw. Pribadi-pribadi penyambung lidah dan langkah Rasulullah saw, yang disebut sebagai orang yang memiliki syakhsiyyah da'iyah (kepribadian da'i).

Secara garis besar, syakhsiyah da'iyah digambarkan di dalam Al-Quran dengan firman-Nya: "Katakanlah: 'Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah (argumentasi) yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. 12: 108)


Dari ayat di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa di antara sifat orang yang memiliki syakhsiyah da'iyah adalah:

Pertama, memiliki ruhul-'izzah (semangat kewibawaan) untuk mengatakan 'hadzihi sabili' (inilah jalanku: Islam). Ia memiliki keyakinan dan kebanggaan akan Islam. Adalah mustahil bisa menjadi da'i Islam, orang-orang yang beranggapan bahwa semua agama sama saja atau orang yang ragu akan kebenaran Islam. Apalagi bila ia lebih membela kepentingan orang-orang kafir ketimbang kepentingan umat Islam, sebab dalam jiwa dan dalam pemikiran seorang da'i selalu terpampang firman-firman Allah seperti berikut:
"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orangorang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) diantara mereka, Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." (QS. 3: 19)
"Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi"(QS. 3:85)

Kebanggaan akan Islam dalam berdakwah telah ditampilkan oleh salah seorang sahabat produktarbiyah Rasulullah saw yang namanya Rib'i bin 'Amir. Beliau diutus untuk memenuhi undangan Rustum, panglima perang Persia. Dengan pakaian amat bersahaja dia datang menghadapi panglima perang yang penuh kemewahan dan dikelilingi oleh para pengawal yang penuh kecurigaan. Saat ditanya oleh Rustum tentang tujuan kedatangan kaum Muslirnin, dengan penuh percaya diri, kebanggaan, dan keyakinan, sang prajurit dan da'i Islam itu menjawab, "Kami diutus oleh Allah untuk mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan terhadap sesama makhluk menuju pengabdian kepada Allah semata; dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat; dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam. Jadi Allah mengutus kami dengan membawa agama-Nya dan menyeru seluruh manusia untuk mengikutinya."

Seorang da'i haruslah berangkat dari kebanggaan dan kecintaan akan Islam serta keberanian tampil untuk membawa segala identitas Islam. Apa pun yang terjadi, gelombang ujian dan fitnah apa pun yang menerpa diri sang da'i, dan betapapun julukan fundamentalis dilekatkan oleh Zionis dan antek-antekanya kepada Islam, sang da'i akan selalu memproklamirkan hadzihi sabili inilah jalanku: Islam.

Kedua, aktifitas dakwah yang dilakukan oleh seorang da'i harus berkesinambungan (istimrariyah), tidak boleh terhenti dan terjegal oleh apa pun. Inilah yang dipesankan oleh kata "ad'u" dalam ayat di atas. Kata itu bentukan fiil mudhari yakni kata kerja yang menunjukkan pekerjaan yang sedang dan akan berjalan terus.

Dakwah tidak boleh berhenti melaju di jalan kehidupan walaupun dengan cara merangkak atau bahkan tiarap sekalipun. Dalam keadaan apa pun dakwah tidak boleh istirahat. Sebab istirahatnya dakwah sama dengan memberi peluang leluasa untuk penghancuran sendi-sendi kehidupan umat manusia.

Dalam keadaan dakwah terus bergerak melancarkan berbagai program dan agendanya saja, berbagai penyimpangan, kebusukan, dan tipu muslihat terus meningkat kuantitas dan kualitasnya. Karena memang kekuatan kafir, munafik, atau orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu tidak pernah berhenti bekerja.

3. Ramadhan sebagai Bulan Pembentukan Syakhsiyah Da'iyah
Bulan Ramadhan dengan segala aktivitas amal ibadah di dalamnya dapat memberikan spirit baru berupa kekuatan iman dan buah ketaqwaan. Keimanan dan ketawaan inilah yang menjadi prinsip utama di dalam pembentukan syakhsiyah da'iyah.

Allah swt berfirman dalam surat Al-hadid ayat 28:
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepada kalian dua bagian dan menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan cahaya itu kalian dapat berjalan dan Dia mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Serta surat At Thalaq ayat 2 dan 3:
"Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (bagi segala persoalannya). Dan memberikannya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."

Bila kita renungkan ayat di atas maka kita dapati bahwa taqwa merupakan bekal utama bagi seorang mukmin terlebih sebagai seorang da'i ilallah. Ketaqwaan adalah kebajikan dan cahaya, yang dengannya ia dapat memberikan sinar cahaya untuk membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Bila demikian halnya maka ia dapat mengikuti jalan petunjuk dengan mudah tanpa hambatan dan tersesat sedikit pun.

Sayyid Quthb menjelaskan makna surat Al-anfal ayat 29 dengan menyatakan: "Inilah bekal tersebut. Inilah bekal dalam mengarungi perjalanan yang panjang. Yaitu bekal taqwa yang menghidupkan hati dan membangunkannya. Bekal cahaya yang memberi petunjuk bagi hati untuk membelah sudut-sudut jalan sepanjang penglihatan manusia. Cahaya ini tidak bisa ditipu oleh syubhat-syubhat yang mata biasa tidak bisa menembusnya. Itulah bekal ampunan bagi segala dosa. Bekal yang memberikan ketenteraman, kesejukan dan kemantapan. Bekal merenungi nikmat-nikmat Allah Yang Maha Agung di hari bekal-bekal tersebut dibutuhkan dan di hari amal perbuatan manusia berkurang. Itulah hakikat sebenarnya. Bahwa taqwa kepada Allah itu menjadikan nilai furqan dalam hati. Ia bisa membuka jalan-jalan yang bengkok.

Ramadhan mubarak, memiliki amal-amal ibadah utama di dalamnya, antara lain: shiyam (berpuasa), qiyam (shalat malam), shadaqah (sedekah), tilawah wa tadabbur Al-qur'an, tetap duduk di masjid (setelah shalat shubuh) hingga matahari terbit, i'tikaf, umrah di bulan Ramadhan, berusaha sungguh-sungguh untuk menghidupkan lailatul qadar dengan beribadah, memperbanyak dzikir, do'a dan istighfar, silatur-rahim (menyambung tali persaudaraan).

Melalui amal-amal ibadah utama di bulan penuh berkah ini dan dilakukan sepanjang kurang lebih 30 hari, maka Ramadhan menjadi sarana yang sangat efektif dalam pemantapan dan pembentukan syakhsiyah da'iyah. Efek ibadah ramadhan yang akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, akan menyiapkan kader menjadi penyambung estafeta perjuangan Rasulullah saw.
Maka, marilah kita siapkan diri kita di sepanjang waktu di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini agar jangan sampai ada waktu yang tak memiliki nilai ibadah. Pantau selalu perkembangan kuantiti dan kualiti ibadah kita. Dengannya kita tingkatkan dan siapkan karakter pribadi da'i yang memiliki keyakinan terhadap mulianya jalan dakwah ini dan konsisten berjuang bersama armada para da'i (usthuulud da'iyah) yang dinakodai oleh Rasulullah saw.
Wallahu a'lam bis shawab.

Ramadhan bersama Rasulullah


( CELAKALAH DIA..)

Rasulullah s.a.w melangkah naik ke mimbar.Baru memijak tangga pertama,spontan saja terpacul dari mulut baginda ucapan 'amin'.Meletakkan kaki ke tangga ke dua,rasulullah ulangi lagi kalimah yang sama. dan 'amin' juga yang baginda lafazkan setelah berdiri di tangga yang berikutnya.

Perbuatan rasul itu terasa aneh dalam pandangan kaum muslimin yang ada di situ.Gerangan apakahb yang mendorong rasulullah melafazkan ucapan "perkenankanlah" itu.Doa siapakah yang di aminkan baginda? semestinya permintaan kekasih Allah itu tiba terus ke hadrat Kekasihnya tanpa hijab dan tempoh.

Tidak mahu tersesat dalam selirat andaian dan teka-teki, sahabat pun bertanya kepada rasullulah s.a.w setelah baginda turun dari mimbar.Rasul menjawab ,'Jibril muncul di hadapan ku dan berkata, ' celaka lah orang yang melalui bulan ramadhan yang diberkati tanpa memperoleh keampunan.' lalu aku mengaminkan ucapan Jibril itu.

'Naik ke tangga kedua, Jibril berkata lagi, 'celakalah orang yang apabila disebutkan namamu,dia tidak berselawat ke atasmu.' Lalu aku mengamin kan ucapan Jibril.Apabila aku melangkah ke tangga ke tiga, Jibrail berkata,'Celakalah orang yang semasa hidupnya,ibubapanya atau salah seorang daripada mereka mencapai umur tua(dia gagal berkhidmat kepada mereka) menafikan dirinya memasuki syurga". Lalu aku menyebut amin'.

( HUTANG PUASA..)

"Wahai Rasullulah.." seorang wanita menyapa." ibuku telah meninggal dunia.sedangkan dia berhutang puasa sebualan.bagaimanakah itu?"

Baginda Rasukllullah menjawab dengan sebaris persoalan, 'bagaimanakah pendapatmu, di andaikan ibumu ada berhutang dengan seseorang, adakah engkau akan membayarnya?"

"Sudah tentu, wahai rasullullah", balas wanita itu cepat.
"Hutang kepada Allah lebih patut di bayar", kata rasullulah s.a.w.

Gesaan itu diteguhkan lagi dengan sepotong sabda," Siapa yang meninggal dunia sedangkan dia mempunyai hutang puasa,maka hendaklah di bayar oleh walinya (penjaga)." (Riwayat Muslim)

Khabarkan Hutang pada Penjaga kita, agar hutang itu tidak menyeksa kita di bilik enam kaki bawah tanah nanti.. Ya Allah, berikan daku keampunan hingga penghujung ramadahan hingga penghujung hayat sekalipun.. Ya Allah , izinkan agar daku tidak hadir dalam golongan yang celaka itu.. Berilah daku petunjuk dan Hidayah.. Amin

Pahlawan Neraka


Assalamualaikum..Artikel dipetik dr : ibn_khaldun009..
Suatu hari satu pertempuran telah berlaku di antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua-dua belah pihak berjuang dengan hebat untuk mengalahkan antara satu sama lain. Tiba saat pertempuran itu diberhentikan seketika dan kedua-dua pihak pulang ke markas masing-masing. Di sana Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah berkumpul membincangkan tentang pertempuran yang telah berlaku itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di ruang mata.

Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka iaitu Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar membaham mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah mulut ketika itu. "Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman," kata salah seorang sahabat. Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, "Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka." Para sahabat menjadi hairan mendengar jawapan Rasulullah itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam boleh masuk dalam neraka.

Para sahabat berpandangan antara satu sama lain apabila mendengar jawapan Rasulullah itu. Rasulullah sedar para sahabatnya tidak begitu percaya dengan ceritanya, lantas baginda berkata, "Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, manakala mata pedang itu pula dihadapkan ke dadanya. Lalu dia terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya." "Dia melakukan perbuatan itu adalah kerana dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan kerana berlawan dengan musuhnya, tetapi membunuh dirinya sendiri. Melihatkan keadaannya yang parah, ramai orang menyangka yang dia akan masuk syurga tetapi dia telah menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka."

Menurut Rasulullah S.A.W lagi, sebelum dia mati, Qotzman ada mengatakan, katanya, "Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak kerana itu, aku tidak akan berperang."

Riwayat ini telah dirawikan oleh Luqman Hakim..Wallahu A'Lam..

Saturday, September 27, 2008

ALQuran Mukjizat Terbesar


Kandungan kitab miliki rahsia mengenai kehidupan perlukan kajian mendalam

RABU ini, sekali lagi umat Islam menyambut ulang tahun peristiwa terbesar dalam sejarah Islam iaitu turunnya al-Quran, mukjizat terbesar Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadan yang turut dikenali sebagai Nuzul Quran.

Ada ulama berpendapat al-Quran diturunkan kepada Rasulullah untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia menerusi tiga peringkat. Peringkat pertama, al-Quran diturunkan Allah secara keseluruhannya ke suatu tempat dinamakan Lauhil Mahfudz.

Peringkat kedua, al-Quran dibawa keseluruhannya dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah iaitu suatu tempat yang terletak di langit dunia. Proses ini berlaku pada malam lailatul qadar seperti firman-Nya dalam ayat pertama surah al-Qadr: "Sesungguhnya Kami menurunkan (al-Quran) ini pada malam lailatul qadar."

Seterusnya, al-Quran diturunkan dari langit dunia kepada Nabi Muhammad menerusi perantaraan malaikat Jibrail AS secara berperingkat dan turunnya ayat pertama adalah pada 17 Ramadan bersamaan 6 Ogos 610.


Peristiwa penurunan ayat pertama hingga kelima dari surah al-Alaq itu juga menjadi petanda kerasulan Nabi Muhammad ketika Baginda berada di Gua Hira, di bukit Jabal Nur berhampiran Makkah.

Ayat itu adalah: "Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekian makhluk). Ia mencipta manusia daripada segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia melalui pena dan penulisan. Ia mengajarkan manusia akan apa yang tidak diketahuinya."

Ayat al-Quran mengandungi 114 surah diturunkan selama 23 tahun dengan 13 tahun di Makkah (1,456 ayat) dan sepuluh tahun di Madinah (4,780 ayat).

Selepas disampaikan Rasulullah, nas al-Quran dipelihara melalui tiga cara iaitu hafalan sahabat, naskhah yang ditulis untuk nabi serta naskhah yang ditulis untuk simpanan sahabat.
Selain itu, Rasulullah turut mengulang ayat al-Quran di hadapan Jibrail setahun sekali dan pada akhir hayat Baginda, Rasulullah khatam al-Quran sebanyak dua kali di hadapan Jibrail. Bagaimanapun, kebanyakan sahabat yang menghafaz al-Quran syahid dalam peperangan menegakkan agama Allah menyebabkan perlunya al-Quran dikumpul dan dijilidkan.

Sejarah penjilidan al-Quran bermula pada pemerintahan Uthman Affan dan setiap nas disusun mengikut tertib ditunjukkan Rasulullah sebelum Baginda wafat. Uthman menubuhkan jawatankuasa khas untuk membukukan al-Quran diketuai Zaid bin Tsabit selain Abdullah bin Zubair, Sa'id 'Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam.

Jawatankuasa itu mengumpul serta menyalin nas al-Quran hingga dibukukan selain memperoleh lembaran nas yang disalin Abu Bakar as-Siddiq daripada puterinya Hafsah. Antara lain, jawatankuasa itu menjejak penghafaz al-Quran untuk mendengar hafalan mereka dan semua hafalan itu ditulis kembali dalam dialek Quraish untuk mengelakkan perbalahan sesama kaum. Akhirnya, jawatankuasa itu berjaya menyalin serta menjilid lima al-Quran yang dinamakan al-Mushhaf dan empat daripadanya dikirimkan ke Makkah, Syria, Basrah dan Kufah untuk disalin pihak di sana.

Sebuah lagi al-Quran disimpan untuk kegunaan Uthman RA dinamakan Mushhaf al-Imam dan selepas itu, semua lembaran salinan al-Quran yang ditulis sebelum pembukuan dibakar.

Ayat al-Quran turut memiliki rahsia tersendiri mengenai kehidupan yang disampaikan kepada manusia secara jelas atau memerlukan kajian mendalam. Hal ini diakui Allah menerusi firman-Nya: "Inilah ayat-ayat al-Quran yang mengandungi hikmah." (Surah Yunus, ayat pertama).

Allah sudah menerangkan secara jelas mengenai pelbagai fakta sains yang melampaui pemikiran manusia walaupun pada masa ayat al-Quran diturunkan, zaman ketika itu masih dianggap kuno dan belum terdedah kepada ilmu sains.

Antara fakta sains yang ditemui dalam al-Quran iaitu semua cakerawala bergerak secara terapung (Yaasiin: 40), bumi bergerak (An-Naml: 88), atom adalah benda terkecil (Yunus: 61), semakin tinggi semakin sukar bernafas (Al-An'aam: 125), makhluk berpasangan (Adz-Dzaariyaat: 49), proses kejadian manusia (Al-Mu'minuun), kegunaan besi (Al-Hadiid: 25) dan langit yang terkawal (Al-Anbiyaa': 32).

Selain itu, kajian lain yang dijalankan mendapati jumlah sesetengah perkataan yang berlawanan dalam bahasa Arab adalah sama antaranya perkataan dunia dan akhirat disebut masing-masing sebanyak 115 kali.

Perkataan lain adalah malaikat dan syaitan (88 kali), hidup dan mati (145 kali), faedah dan kerugian (50 kali), kesusahan dan kesabaran (114 kali), lelaki dan perempuan (24 kali), ummah dan penyampai (50 kali), iblis dan memohon perlindungan daripada iblis (11 kali), musibah dan bersyukur (75 kali), bersedekah dan berpuas hati (73 kali) serta zakat dan berkat (32 kali). Golongan muslimin dan jihad (41 kali), emas dan kemurahan hidup (lapan kali), keajaiban dan fitnah (60 kali), minda dan nur (49 kali), lidah dan sumpah (25 kali), nafsu dan ketakutan (lapan kali), bercakap di khalayak ramai dan berdakwah (18 kali). Jumlah perkataan lain yang dianggap ajaib ditemui adalah solat (lima kali), bulan (12 kali), tahun (365), lautan (32 kali) dan daratan (13 kali).

Jumlah lautan dan daratan ini apabila ditukar dalam bentuk peratus adalah bersamaan dengan jumlah sebenar kawasan laut dan darat yang ada di dunia ketika ini iaitu masing-masing 71.111 peratus dan 28.889 peratus. Misteri yang terkandung dalam ayat al-Quran ini membuktikan kitab berkenaan bukanlah rekaan seorang manusia melainkan ia dihasilkan oleh suatu kuasa yang mentadbir seluruh alam ini yakni Allah.

Tips 10 Malam Terakhir RAMADHAN

SAlam pembuka tinta Bicara..
Bulan Ramadhan sudah hampir tiba ke penghujungnya. Wahai muslimin dan muslimat sekalian, rebutlah pahala di sepuluh malam yang terakhir ini sesungguhnya di sepuluh malam yang terakhir ini. “Dimalam itu (Lailatul Qadr) malaikat dan ruh turun dengan izin Tuhan mereka …” (Al-Quran).

Pernah dimalam itu Al-Quran diturunkan dari Luh Mahfuz ke langit dunia, Baitul Izzah. Ramadan 1429H/2008M semakin berakhir. Mukmin sejati semakin menggiatkan ibadah mereka khususnya di seluruh 10 malam terakhirnya, yakin pahala di salah satu dari malam-malam tersebut digandakan pahalanya sebanyak ibadah yang sama dikerjakan selama 1000 bulan! Itulah malam Lailatul Qadar. Pada 10 malam tersebut, demi berebut untuk mendapatkannya, Rasulullah saw mengasingkan dirinya dari isteri-isterinya, beriktikaf di dalam Masjid Nabawi, beribadah dan bermunajat kepada Allah swt sambil diikuti oleh para Sahabat ra. Firman Allah swt bermaksud,

“Sesungguhnya Kami menurunkan (Al-Quran) dalam malam Lailatul Qadr. Tahukah kamu apa itu malam Lailatul Qadr. Malam Lailatul Qadr lebih baik dari 1000 bulan. Malaikat dan ruh turun pada malam itu dengan izin Tuhan mereka dalam semua urusan. Salam (sejahtera) malam tersebut hingga naik fajar” (Al-Quran).

Diantara ibadah-ibadah yang boleh dilakukan ialah qiamulail, puasa fardhu, berbuka, solat Tarawih, tilawah Al-Quran, berdoa, zikir, istighfar, memuhasabah diri, merancang untuk amalan diri, keluarga dan Dakwah dan sebagainya.


Tips

Beberapa tips dalam merebut pahala dan kelebihan malam Lailatul Qadr :

1. Bersedia untuk merebutnya dari sekarang terutama disegi keyakinan, kesungguhan merebut peluang tahunan ini dan merancang kalender harian agar mengosongkan 10 malam-malam terakhir tersebut untuk tujuan itu semata-mata, tidak untuk kesibukan lain.

2. Memahami bahawa dimana jawatan, kedudukan dan kesibukan kita di dunia ini, tujuan utama manusia dijadikan ialah untuk beribadah kepada Allah swt dengan penuh keikhlasan, bersedia untuk “Hari (Akhirat) yang tiada gunanya lagi harta dan anak-anak, melainkan orang yang bertemu Allah dengan hati yang sejahtera” (Al-Quran).

3. Putuskan dari sekarang masjid mana yang akan kita gunakan untuk Iktikaf, siang dan malam, samada sebahagian atau 24 jam sehari. Pastikan AJK masjid tersebut memahami ibadah Iktikaf dan Qiyamullail 10 Malam terakhir agar tidak berlaku masalah pengurusan dengan mereka yang tidak memahaminya.

4. Dapatkan teman agar sama-sama dapat melakukan ibadah tersebut secara berjemaah.

5. Jika anda bekerja dibawah majikan, kenalpasti hari-hari yang akan dimohon cuti agar dapat lebih hari untuk beriktikaf di masjid. Jika anda tidak dapat mengambil cuti kerja, anda boleh cuba berktikaf di masjid sepenuhnya dalam cuti hujung minggu pada hari Sabtu 27/9/2008 dan Ahad 28/9/2008.

6. Jika anda seorang pelajar, cuba habiskan kerja-kerja rumah atau assignments dari sekarang agar tidak tertimbun pada 10 malam terakhir Ramadan. Beli tiket balik kampung lebih awal agar tidak disibukkan mencari tiket nanti.

7. Bersedia untuk Aidil Fitri lebih awal, sebelum 10 Malam Terakhir, agar kita tidak disibukkan nanti dengan membeli belah, memasang langsir, membuat kuih muih, menyiap atau menjahit pakaian Raya dan sebagainya seperti yang sering berlaku pada ramai orang yang kurang memahami dan menghayati kelebihan 10 malam terakhir Ramadan.

8. Memahami bahawa asas perubahan ke arah kebaikan pada seseorang bahkan pada sesebuah umat ialah pembaikan jiwa yang ada di dalam diri masing-masing. Madrasah 10 Malam Terakhir Ramadan yang bakal dilalui boleh turut membantu mencapai kearah perubahan tersebut.

Semoga Allah mengurniakan ketaqwaan kepada kita setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan ini. Kita keluar darinya nanti dengan beroleh rahmah, keampunan dan selamat dari api neraka. Ameen.

.:: KEMBARA INSAN MENCARI TUHAN YANG MAHA ESA ::.